Bisnis Reparasi Handphone Masih Prospektif?

Memperbaiki Handphone yang Terendam Air
September 17, 2014
Reset LCD BlackBerry
September 18, 2014

Bisnis Reparasi Handphone Masih Prospektif?

Di saat ekonomi lesu seperti ini, apakah bisnis reparasi selular masih menjanjikan? Apa benar banyak orang bilang bisnis reparasi “sudah lewat jamannya”? Apakah di Indonesia akan seperti di negara maju, di mana jika gadged rusak tidak akan diperbaiki, karena ongkosnya lebih mahal dari harga gadged itu sendiri?

Mari kita flashback ke awal mula ponsel masuk di Indonesia. Saat itu boleh dikata bisnis ini sedang booming . Semua orang ingin masuk ke bisnis ini. Apapun yang berhubungan dengan ponsel, akan selalu meledak. Baik produksinya, jual belinya, hingga layanan purna jualnya selalu dipadati oleh para pebisnis baru. Tidak sedikit orang yang bisa memanfaatkan peluang ini. Mereka mendulang harta yang tidaklah sedikit.

Bisnis reparasi ponsel pada saat itu, boleh dikata berada pada jaman keemasan. Siapa yang lebih jago, dia punya peluang besar untuk meraup untung. Bagaimana tidak, ganti casing saja masih bisa dapat untung ratusan ribu rupiah. Wow!

Masih ingatkah ketika masuknya ponsel pabrikan Tiongkok membanjiri Indonesia? Nah inilah awal kemunduran bisnis reparasi. Boleh dikata, ini adalah pukulan terberat bisnis reparasi. Bagaimana tidak, wong harga reparasinya saja bisa untuk beli ponsel baru. Ya mending beli hp baru. Ongkos reparasi turun drastis! Dari ratusan ribu, jadi puluhan ribu. Tidak sedikit para bengkel yang akhirnya putar haluan usaha mereka.

Namun seiring waktu berjalan, para penggunapun semakin pintar. Dikarenakan banyaknya keluhan pada ponsel murah mereka, perlahan namun pasti mereka mulai melirik lagi ponsel yang dulu sudah mereka tinggalkan. Alias mereka rela mengeluarkan uang lebih besar untuk mendapat kualitas yang lebih baik, dibanding mereka harus bolak balik mengurus ponsel mereka ke servis center walaupun masih dalam masa garansi.

Seiring itu, masuklah ponsel pintar Blackberry dari Kanada, Iphone dari Amerika, yang notabene bukanlah lagi ponsel murahan. Dengan harga yang boleh dikata tinggi, pasar ponselpun bergerak naik lagi. Inilah titik balik para teknisi. Yang tadinya ongkos puluhan ribu, naik lagi ke angka ratusan ribu. Dan yang lebih melegakan adalah saingannya pun sudah banyak berkurang karena sebelumnya sudah banyak yang mengundurkan diri. Dan ini sudah berlangsung hingga sekarang.

Pertanyaan berikutnya, apakah akan menjadi seperti negara maju? Di mana jika gadged rusak, akan dibuang? Ingat! Kejadian ini benar terjadi, tapi hanya di negara maju. Pendapatan perkapita para penduduknya sudah begitu tinggi. Jadi apakah fenomena ini akan terjadi di Indonesia? Jawabannya adalah kapankah negara tercinta kita ini menjadi negara yang maju?

 

Informasi lebih lanjut

Back to Home Back to Artikel

Comments are closed.