Di saat ekonomi lesu seperti ini, apakah bisnis reparasi selular masih menjanjikan? Apa benar banyak orang bilang bisnis reparasi “sudah lewat jamannya”? Apakah di Indonesia akan seperti di negara maju, di mana jika gadged rusak tidak akan diperbaiki, karena ongkosnya lebih mahal dari harga gadged itu sendiri?

Mari kita flashback ke awal mula ponsel masuk di Indonesia. Saat itu boleh dikata bisnis ini sedang booming . Semua orang ingin masuk ke bisnis ini. Apapun yang berhubungan dengan ponsel, akan selalu meledak. Baik produksinya, jual belinya, hingga layanan purna jualnya selalu dipadati oleh para pebisnis baru. Tidak sedikit orang yang bisa memanfaatkan peluang ini. Mereka mendulang harta yang tidaklah sedikit.

Bisnis reparasi ponsel pada saat itu, boleh dikata berada pada jaman keemasan. Siapa yang lebih jago, dia punya peluang besar untuk meraup untung. Bagaimana tidak, ganti casing saja masih bisa dapat untung ratusan ribu rupiah. Wow!

Masih ingatkah ketika masuknya ponsel pabrikan Tiongkok membanjiri Indonesia? Nah inilah awal kemunduran bisnis reparasi. Boleh dikata, ini adalah pukulan terberat bisnis reparasi. Bagaimana tidak, wong harga reparasinya saja bisa untuk beli ponsel baru. Ya mending beli hp baru. Ongkos reparasi turun drastis! Dari ratusan ribu, jadi puluhan ribu. Tidak sedikit para bengkel yang akhirnya putar haluan usaha mereka.